TAHAP PEMBENTUKAN STRUKTUR KELOMPOK (TAHAP NORMING)

Tahap penormaan (norming/Tahap penormaan adalah tahap di mana berkembang hubungan yang akrab dan kelompok menunjukan sifat kohesif (saling tarik). Sudah ada rasa memiliki identitas kelompok dan persahabatan yang kuat. Tahap ini selesai jika telah terbentuk struktur kelompok yang kokoh dan menyesuaikan harapan bersama atas apa yang disebut sebagai perilaku anggota yang benar. Tahap norming memiliki sub bab, yaitu:

1. Peran (role)

Peran (role) merupakan seperangkat pola perilaku yang diharapkan dari seseorang yang menduduki posisi tertentu dalam unit sosial tertentu. Kelompok-kelompok memberlakukan persyaratan peran berlainan ke individu, seperti:

 

1) Identitas Peran

Ada sikap dan perilaku actual tertentu yang konsisten dengan peran dan menciptakan identitas peran.

 

2) Persepsi Peran

Pandangan seseorang mengenai bagaimana seseorang seharusnya bertindak dalam situasi tertentu.

 

3) Pengaharapan Peran

Pengharapan peran adalah bagaimana orang lain menyakini apa seharusnya tindakan anda dalam situasi tertentu.

 

4) Konflik Peran

Hal ini terjadi jika individu dihadapkan kepada pengaharapan peran yang berlainan. Misalnya patuh kepada tuntutan satu peran yang menyebabkan dirinya kesulitan mematuhi tuntutan peran lain.

Setiap anggota kelompok memainkan suatu peran; konsisten dengan perannya atau sebaliknya. Bisa jadi bertemu dengan konflik dan tuntutan hasil dengan peran itu dari organisasinya. Konflik peran dibagi menjadi dua:

􀂾 interrole : konflik antara 2 atau lebih peran yang dijalani oleh 1 orang

􀂾 intrarole : konflik antara peran 1 orang dengan peran orang lain

 

Perbedaan peran :

􀂃 Task roles → tugas

􀂃 Socioemotional roles → sosioemosi

 

Teori 3 dimensi peran :

a. dominance – submission

b. friendly – unfriendly

c. instrumentally controlled – emotionally eupressive

 

 

 

2. Norma (norm)

Norma (norm) merupakan aturan-aturan yang menggambarkan tindakan tindakan yang seharusnya diambil oleh anggota kelompok. Atau bias dikatakan Norma adalah standar perilaku yang dapat diterima dengan baik dalam suatu kelompok dan digunakan oleh  semua anggota dalam kelompok tersebut. Norma digunakan untuk mempengaruhi perilaku anggota dan norma setiap kelompok akan berbeda dengan kelompok lain.  norma bersifat informal walaupu ada yang formal, yaitu yang ditulis dalam buku petunjuk organisasi.

 

3. Hubungan antar anggota

Ditandai dengan adanya hubungan ketertarikan dari masing-masing anggota kelompok yang menimbulkan hubungan komunikasi diantara mereka.

 

This entry was posted in tahap norming dan performing and tagged . Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s